Timnas Sepakbola Indonesia digunduli Bahrain 0 : 10

Timnas Sepakbola Indonesia Digunduli Bahrain 0 : 10 - Sulit rasanya bagi saya sebagai pecinta olahraga sepakbola untuk tidak mengomentari kekalahan menyakitkan Timnas Indonesia atas Bahrain yang notabene nya sama-sama negara yang sedang berkembang di kawasan Asia. Orang bilang kekalahan dalam sebuah permainan adalah hal yang biasa. Lalu apakah kekalahan 0 : 10 dari tim yang kelasnya tidak jauh berbeda itu juga masih dianggap biasa? Yang jadi fokus perhatian saya dalam hal ini sebenarnya bukanlah kekalahannya, namun justru ingin menyoroti dibalik kekalahan yang bagi sebagian orang menilainya adalah hal yang tak wajar.

Dalam pertandingan yang sudah tidak menentukan bagi Indonesia di kualifikasi piala dunia 2014 yang akan dihelat di Brazil ini, timnas sepakbola Indonesia harus menyerah dengan skor telak 0 : 10 atas Bahrain. Kekalahan terbesar Indonesia sejak 3 september 1974 yang kala itu dikalahkan Denmark dengan skor 0 : 9 dalam sebuah laga persahabatan yang dilangsungkan di Kopenhagen.

Lantas apa yang menyebabkan kekalahan ini begitu telak?

Kepengurusan sepakbola Indonesia saat ini nampaknya sudah keluar dari makna olahraga itu sendiri yakni mengedepankan sportifitas. Hal ini bisa kita lihat dari keributan para pengurusnya yang tak kunjung membaik. Dengan mengatasnamakan kepentingan sepakbola nasional mereka saling berbenturan satu sama lain dan semuanya mengaku paling benar. Sepakbola terlihat seperti sudah dijadikan ajang adu kekuatan untuk menunjukan kekuasaan kelompok tertentu. Sungguh ini merupakan hal yang ironis saat rakyat Indonesia mengharapkan prestasi besar dari cabang olahraga terpopuler di muka bumi ini.

Berkaca dari keadaan yang telah disebutkan tadi, inikah jawaban atas minimnya prestasi sepakbola kita?

Ketika negara lain terus berbenah diri, kita justru jauh mundur ke belakang dimana para pengurusnya lebih sibuk mengurusi organisasinya daripada mengurusi sepakbola itu sendiri.

Dari komposisi pemain yang ada sekarang, kita bisa melihat perbedaaan yang begitu mencolok. Pemain sekelas Bambang Pamungkas, Firman Utina dan lain-lain yang biasa kita lihat di timnas, kini sudah tidak tampak lagi dengan alasan mereka tidak berhak memperkuat tim nasional karena membela klub yang tidak diakui oleh induk organisasi sepakbola tanah air.

Siapa yang merampas hak mereka ikut membela tanah airnya sendiri?

Tanpa bermaksud merendahkan pemain timnas sekarang, saya merasa bahwa skuad timnas saat ini sebagian besar pemainnya masih perlu jam terbang yang lebih banyak untuk melakukan pertandingan internasional sekelas kualifikasi piala dunia.

Harapan ke depan pasca kekalahan ini semoga menjadi pelajaran bagi para pihak yang terkait untuk bersatu dan menyingkirkan ego masing-masing demi kemajuan sepakbola Indonesia. Bravo sepakbola nasional!!
Untuk berlangganan artikel, masukan email anda disini:



0 Comment :

Posting Komentar

Bahasa dapat mencerminkan kepribadian seseorang.
Bagi yang ingin promosi web, blog dan atau mendapatkan backlink dari blog ini, telah disediakan tempat khusus. Klik DISINI

 

Info Olahraga

Info Komputer

Info Blackberry