Ads 468x60px

Sejarah Kejuaraan Bulutangkis All England

Sejarah Kejuaraan Bulutangkis All England - All England telah dipertandingkan sejak April 1899, menyusul kesuksesan kejuaraan bulutangkis pertama di dunia pada 1898 di Guilford. Namun, kompetisi sempat beberapa kali tidak dilaksanakan karena berbagai hal, seperti saat Perang Dunia I (1915-1919) dan Perang Dunia II (1940-1946).

Sebelum All England, nama turnamen adalah Kejuaraan Inggris Terbuka dan hanya memainkan sektor ganda, yaitu ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran. Namun, setelah itu, nomor tunggal putra dan putri ikut ditarungkan. Nama All England sendiri baru dipakai sejak 1902 karena sebelumnya bernama Kejuaraan Inggris Terbuka.

Dalam sejarahnya, sebelum dikuasai para pemain Asia, gelar All England terlebih dahulu dikuasai oleh pemain lokal. Hingga sekarang, Sir George Alan Thomas tercatat sebagai atlet yang paling banyak merebut gelar juara, yaitu dengan 21 titel dari berbagai nomor. Pada era modern ketika pemain Asia mulai berjaya, nama-nama seperti Rudy Hartono, Liem Swie King (Indonesia), Susy Susanti (Indonesia), Ye Zhaoying, Gong Zhichao, Xie Xinfang (China), Park Joo Bong/ Kim Moon Soo, Li Yong Bo/ Tian Bingyi merupakan pemain paling sukses merebut banyak gelar (bulutangkis.com).

Catatan Emas Indonesia

1. RUDY HARTONO KURNIAWAN
Sejarah menulisnya lebih singkat dengan Rudy Hartono. Hingga saat ini rekor 8 kali juara All England, 7 diantaranya direbut secara berturut turut belum bisa terpecahkan. Di luar All England, hampir semua gelar pernah diraihnya termasuk Thomas Cup dan World Cup yang terakhir dilakoninya pada 1980.

Rudy Hartono mencatat rekor delapan kali juara tunggal putra, yaitu pada 1968-1974, dan 1976. Rekor ini begitu fantastis, dan belum ada yang mampu menyamainya. Rasanya sulit bagi pemain sekarang untuk menyaingi apa yang telah diraih pria asal Surabaya ini.

2. LIEM SWIE KING
Liem Swie King merupakan generasi emas kedua di tunggal putra. King dianggap penerus kejayaan yang ditinggal Rudy Hartono. Tiga kali gelar All England dan empat runner-up dirasakan pebulutangkis kelahiran Kudus, 28 Februari 1956 ini. Gaya smash yang dilakukannya sambil melompat menjadi cirikhasnya hingga melahirkan julukan King Smash.

3. ALAN BUDIKUSUMA
Permainannya tidak segemilang Rudy Hartono maupun Liem Swie King. Namun prestasi yang telah mengharumkan nama Indonesia untuk pertamakalinya di ajang Olimpiade Barcelona 1992 membuat Alan Budikusuma masuk daftar pebulutangkis terbaik di negeri ini. Alan belum pernah merasakan juara All England  maupun Thomas Cup. Namun dengan emas Olimpiade, Alan dianugrahi Tanda Kehormatan Republik Indonesia Bintang Jasa Utama seperti Rudy Hartono.

4. HARYANTO ARBI
Pebulutangkis Indonesia yang juga memiliki gelar lengkap. Dua kali gelar All England bisa diraihnya pada 1993, 1994. Juara Thomas Cup pernah dirasakan sebanyak 4 kali (1994, 1996, 1998, 2000), Juara Dunia 1994, 1995 dan beberapa open turnamen lainnya. Yang lebih fenomenal, Haryanto Arbi merupakan penerus Liem Swie King dalam hal jumping smash. Bahkan Haryanto Arbi dijuluki “Smash 100 watt”  karena kecepatannya.

Sayangnya, setelah duet putra Candra Wijaya/ Sigit Budiarto yang juara pada 2003, tak ada gelar juara lagi yang dirasakan para pemain Indonesia. Hariyanto Arbi, yang sekarang bergelut dengan bisnis perlengkapan bulutangkis Flypower, adalah pemain tunggal putra terakhir yang merebut gelar juara, yaitu pada 1994. Setelah Hariyanto, sebenarnya ada Taufik Hidayat yang diharapkan juara. Namun faktanya, Taufik hanya menjadi finalis dua kali, 1999 dan 2000. Taufik pun mempunyai keinginan kuat untuk menyandingkannya dengan gelar juara dunia dan Olimpiade.
Untuk berlangganan artikel, masukan email anda disini:



0 Comment :

Poskan Komentar

Bahasa dapat mencerminkan kepribadian seseorang.
Bagi yang ingin promosi web, blog dan atau mendapatkan backlink dari blog ini, telah disediakan tempat khusus. Klik DISINI

 

Info Olahraga

Info Komputer

Info Blackberry